Mungkin itulah yang selalu kulakukan, menyortir dengan harga murah terasa lebih menyenangkan, apalagi dengan kehadiran e-commerce, rasanya memiliki barang yang sama dengan harga yang jauh lebih murah memang sangat melegakan dan mengurangi penyesalan.
Kehadiran diskon di pasar swalayan juga mempengaruhi, barang tidak lagi dinilai dari kualitas atau utilitas melainkan secarik tempelan harga dan coretan diatasnya menandakan barang tersebut sedang mengadakan potongan harga. Lalu secara mendadak produk tersebut menjadi berharga meskipun, sebenarnya tidak juga.
Sebagai golongan kaum menengah kebawah, gue ngerasa cara inilah The Ultimate Way to Live, selalu membandingkan harga, selalu menemukan penawaran terbaik, selalu mencari celah, harga termurah, menghemat, dan menghemat.
Pada kenyataannya tidak selalu begitu, berawal dari pertemuan gue dengan pasangan gue sekarang, dia meskipun juga pas pasan secara keuangan, selalu mencari value lebih dari sekedar harga. Menurutnya brand itu penting, karena menjadi jaminan kualitas, dan menjanjikan sesuatu yang tidak dimiliki brand lain.
Reaksi pertamaku, ah, masa sih? Bukannya brand cuma akal - akalan Marketing aja? Supaya mereka bisa jual jauh lebih mahal? Pada kenyataannya utilitas sebuah produk ya kembali ke bagaimana kita bisa menggunakan produk itu pada akhirnya kan?
Tapi tidak selalu begitu, saat itulah kemudian gue tersadar satu hal, seringkali, karena kebiasaan mensortir dari harga terendah, membuat gue kemudian melewatkan satu penawaran lebih baik, dengan menambahkan sedikit uang.
Memang lebih mahal, tapi lebih tinggi Value of Moneynya. Singkatnya adalah, apa saja nilai yang didapatkan dari menambah biaya yang harus dikeluarkan. Simpel, tapi sangat mengena di hati.
Yang menyakitkannya adalah produk teknologi, seringkali barang yang sudah terlewat masa jayanya dan sudah tertinggal teknologinya, kemudian harganya berangsur turun dan turun. Bukan sekedar karena ada pengganti baru saja, karena experience untuk menikmati barang tersebut, sudah jauh turun drastis pula, mulai dari kehilangan dukungan, kehilangan update terbaru, dan juga service center.
Saat itulah gue ngerasa bahwa produk, tidak selalu berhubungan dengan one-time payment. Bukan hanya apa yang akan didapat in present time, kemudian berpikir secara lugas dan langsung kita mendapat manfaat produk itu atau tidak.
Kenyataannya, produk yang baik adalah produk yang memang memiliki sisi - sisi lain yang juga memberikan nilai tanpa disadari. Mungkin memang nonton film bajakan bisa menyenangkan karena murah, tapi kursi yang nyaman, ambient yang menyegarkan, mungkin adalah value yang besar karena memberikan experience yang jauh lebih baik daripada menggunakan headset KW dan laptop 14 inci yang sudah buram.
Kembali ke produk teknologi, menjamin bahwa produk yang digunakan memiliki utilitas yang diinginkan dan memiliki dukungan penuh jangka panjang, adalah nilai yang tidak terbantahkan. Tapi seringkali dilupakan. Berbeda 200-300rb untuk mendapat komponen yang tetap dapat compatible dengan perangkat di masa depan jauh lebih baik daripada membeli komponen yang sama sekali baru di masa depan.
Ya mungkin saat inilah kemudian tersadar bahwa, mungkin harga bukan satu - satunya cara untuk memahami sebuah produk. Dan bahkan mungkin cara yang terlampau sombong. Menghemat memang perlu, tapi melupakan value yang memang diinginkan dengan dalih berhemat sekian ribu, lalu kemudian mengorbankan yang jauh lebih tinggi ketika membutuhkan fitur tersebut, bukannya, itu langkah yang bodoh?
