Dalam artikel ini, saya ingin menyasari bagaimana secara normal manusia memproses tulisan seseorang, merekaa menulis/membuat sesuatu yang menaikkan emosi seseorang, lalu orang tersebut menuliskan komentarnya, kemudian anda dengan sukarela membaca tulisan tersebut dan kemudian terdiam sesaat sambil berpikir, "emang benar ya, aku seburuk itu?"
Dalam hal ini bagaimana kita menginterpretasikan sebuah komentar menjadi kunci, tetapi, adakalanya kita tidak sanggup memikirkan sesuatu yang lebih baik, terutama apabila kita malah justru terpancing dan berusaha membuktikan kebenaran kita dan membersihkan nama kita dari segala keburukan yang dia utarakan, tetapi cara ini tidak efektif, dan juga melelahkan.
Ketika dihadapkan kepada cuitan orang lain yang menyakitkan, mungkin kita punya kesempatan untuk memblokir supaya dia tidak lagi muncul di kemudian hari, tetapi ada berapa banyak kemudian yang muncul lagi atau membuat akun baru?
Percakapan media sosial tak ubahnya menjadi panggung pamer intelektualitas dan perdebatan tanpa henti, dimana setiap pihak selalu merasa yang paling benar dan siapapun yang dia katakan salah, maka secara mutlak salah, kemudian dua pihak ini akan berusaha keras mengatakan bahwa ialah pihak yang paling benar.
Padahal kenyataannya kebenaran adalah sesuatu yang amat relatif dan subjektif. Sesuatu yang dikatakan benar oleh saya, belum tentu dikatakan benar oleh kamu, sehingga ada banyak hal yang harus dipertimbangkan, seperti fakta yang dibawa dan basis dari perkataan tersebut, alias argumentasi yang menjadi pondasi perkataan seseorang.
Ketika dihadapkan oleh fakta - fakta tersebut pun tidak serta merta membuat mutlak menjadi benar, tetapi kembali ke bagaimana kebenaran yang dimaksud dikatakan menjadi "benar". Ada serangkaian indikator yang memenuhinya, sehingga harus memenuhi syarat tersebut untuk menjadi sesuatu yang benar.
Pembahasan yang multi subjektif seperti Agama dan Kepercayaan adalah bagian dari relativitas kebenaran, syarat masuk surga agama Islam tentu berbeda dengan masuk islam agama Kristiani, sehingga ketika keduanya berdebat tetapi tidak menyatukan definisi masuk surga yang mereka gunakan, maka sia sia lah perdebatan tersebut.
Tetapi ada kalanya hal tersebut juga terjadi karena pihak yang berdebat memang hanya ditutupi oleh kemarahan yang memaksa dia bersusah payah menjatuhkan kamu, bukan karena semata ingin menemukan kebenaran, oleh karena itu, mungkin ini adalah bagian dari orang "bodoh" yang merasa "sok pintar" dengan membenarkan orang lain.
Kalau sudah bertemu dengan orang seperti itu, rasanya mudah saja, tinggal saja tinggalkan dengan komentar bernada sarkastik, karena toh apapun yang kamu keluarkan, dia tidak akan mendengarnya, tetapi cukup tutup pembicaraan dengan, (Iya, kamu memang orang terpintar yang pernah kuketahui, semua yang kamu katakan benar sekali) atau dengan pernyataan sejenis.
Sarkasme sendiri adalah majas dimana mengatakan sebuah pernyataan dengan yang terbalik dengan tujuan supaya kamu tidak perlu ikut menghina orang tersebut, tetapi membuat dia berpikir tentang pernyataan dia kalau dia memang berpikir.
Cara ini cukup efektif selama saya gunakan dalam bersosial media, jika orang itu memang berpikir dengan logika yang baik, pasti dia akan memikirkan ucapan dia, kalau orang tersebut memang hanya trolling dan membenci, seharusnya sudahlah tinggalkan saja.
