BEM tak ubahnya hanya
sebuah lembaga survey ataupun petisi online, yang tak cukup powernya untuk bisa
berdampak.
Bertahun saya
kuliah di kampus biasa saja, membuat saya tidak punya banyak tekanan untuk
memikirkan masalah dunia, toh saya hanya mahasiswa biasa biasa saja, yang
terdampar dan hanya memikirkan secepatnya keluar dari sini. Gaungan saat ospek
soal agent of change pun seperti sebuah lelucon, bayangkan seseorang datang ke
kampus hanya demi memuaskan mulut tetangga dan tekanan status sosial, lalu
kemudian memiliki visi menjadi agen pengubah, terlalu tinggi ekspektasi yang
dibangun.
Seusai itu
kemudian orang bergelora mengampanyekan pentingnya berorganisasi, katanya hanya
dengan berorganisasilah kesuksesan akan diraih, bahwa kuliah cepat tanpa cacat
itu sudah tidak lagi cukup untuk bisa membuat para HRD terbelalak, tapi kampanye
– kampanye hitam itu digaungkan tanpa landasan yang pasti, bahwa tentu
organisasi bisa jadi wadah yang tepat, tapi apakah semua yang masuk organisasi
serta merta menjadi orang sukses?
Mitos – mitos soal
mencapai kesuksesan lewat organisasi membuat kemudian orang berlomba menjadi
yang terdepan, bukan untuk memberi solusi, tetapi jadi ajang eksistensi.
Organisasi jadi sarang panjat sosial yang baik, bisa diliat dong, yang dulu
demo sekarang endorse shopee.
Hanya satu
kesalahan BEM dan organisasi yang lain, ego. Ketika sebuah organisasi sudah
diisi oleh kesombongan dan kecongkakan, disitu pula peran organisasi terus
mengabur, organisasi jadi hanya sebuah lembaga tak bertuan yang isinya hanya
mengisi rasa haus dari ego para anggotanya, setiap orang selalu datang dengan
tujuan yang tak jelas esensinya.
BEM ini selalu
kesulitan untuk menggerakkan masa, bukan karena mereka berkepala besar sehingga
menamai kepala mereka dengan gubernur atau presiden, bukan, tapi karena mereka
tak mampu memahami apakah orang benar – benar peduli dengan kontestasi yang
mereka lakukan, apakah kehadiran mereka memang memberi dampak bagi kehidupan
sosial bermasayarakat mahasiswa?
Organisasi
lagi – lagi gagal mengenal tujuan mereka dihadirkan, untuk melayani mahasiswa,
3 tahun saya hidup, tiap semesternya saya mengisi angket dan form untuk
disampaikan aspirasinya kepada pemimpin, tapi terus menerus hanya tak menjadi
apapun. Sarasehan, obrolan manja, sampai kritik sindiran terus dikumandangkan
tetapi selalu nihil.
BEM layaknya
hanya sebuah lembaga survey yang hanya bertugas mendata dan melaporkan apa yang
terjadi tanpa kemudian bisa punya kekuatan untuk mengubah itu semua, mereka
tidak bekerja bersama mahasiswa, melainkan menjadi tangan kanan kampus dalam
membungkam mahasiswa (supaya tidak teriak anarkis di ruang sekretariat) dengan
alasan bahwa ada ruang aspirasi melalu para BEM.
BEM pun sepertinya
acuh, toh yang penting KPI saya terpenuhi, nilai baik, jabatan prestis kudapat,
kerja mudah, untuk apalah menciptakan solusi, lebih baik saya fokus dengan masa
depan saya sendiri, terlalu rumit katanya menciptakan perubahan, terlalu banyak
peran – peran dalam sistem yang turut andil.
Kemudian
izinkanlah saya tertawa kembali soal agent of change, tidak ada yang namanya
agent of change, karena kita lebih suka berdiam dalam kenyamanan, berpindah
hanya untuk mencapai kenyamanan yang lain.