BEM bekerja Bersama Mahasiswa - Life Of Zael
News Update
Loading...

Thursday, January 28, 2021

BEM bekerja Bersama Mahasiswa

 

BEM tak ubahnya hanya sebuah lembaga survey ataupun petisi online, yang tak cukup powernya untuk bisa berdampak.


Bertahun saya kuliah di kampus biasa saja, membuat saya tidak punya banyak tekanan untuk memikirkan masalah dunia, toh saya hanya mahasiswa biasa biasa saja, yang terdampar dan hanya memikirkan secepatnya keluar dari sini. Gaungan saat ospek soal agent of change pun seperti sebuah lelucon, bayangkan seseorang datang ke kampus hanya demi memuaskan mulut tetangga dan tekanan status sosial, lalu kemudian memiliki visi menjadi agen pengubah, terlalu tinggi ekspektasi yang dibangun.

Seusai itu kemudian orang bergelora mengampanyekan pentingnya berorganisasi, katanya hanya dengan berorganisasilah kesuksesan akan diraih, bahwa kuliah cepat tanpa cacat itu sudah tidak lagi cukup untuk bisa membuat para HRD terbelalak, tapi kampanye – kampanye hitam itu digaungkan tanpa landasan yang pasti, bahwa tentu organisasi bisa jadi wadah yang tepat, tapi apakah semua yang masuk organisasi serta merta menjadi orang sukses?

Mitos – mitos soal mencapai kesuksesan lewat organisasi membuat kemudian orang berlomba menjadi yang terdepan, bukan untuk memberi solusi, tetapi jadi ajang eksistensi. Organisasi jadi sarang panjat sosial yang baik, bisa diliat dong, yang dulu demo sekarang endorse shopee.

Hanya satu kesalahan BEM dan organisasi yang lain, ego. Ketika sebuah organisasi sudah diisi oleh kesombongan dan kecongkakan, disitu pula peran organisasi terus mengabur, organisasi jadi hanya sebuah lembaga tak bertuan yang isinya hanya mengisi rasa haus dari ego para anggotanya, setiap orang selalu datang dengan tujuan yang tak jelas esensinya.

BEM ini selalu kesulitan untuk menggerakkan masa, bukan karena mereka berkepala besar sehingga menamai kepala mereka dengan gubernur atau presiden, bukan, tapi karena mereka tak mampu memahami apakah orang benar – benar peduli dengan kontestasi yang mereka lakukan, apakah kehadiran mereka memang memberi dampak bagi kehidupan sosial bermasayarakat mahasiswa?

Organisasi lagi – lagi gagal mengenal tujuan mereka dihadirkan, untuk melayani mahasiswa, 3 tahun saya hidup, tiap semesternya saya mengisi angket dan form untuk disampaikan aspirasinya kepada pemimpin, tapi terus menerus hanya tak menjadi apapun. Sarasehan, obrolan manja, sampai kritik sindiran terus dikumandangkan tetapi selalu nihil.

BEM layaknya hanya sebuah lembaga survey yang hanya bertugas mendata dan melaporkan apa yang terjadi tanpa kemudian bisa punya kekuatan untuk mengubah itu semua, mereka tidak bekerja bersama mahasiswa, melainkan menjadi tangan kanan kampus dalam membungkam mahasiswa (supaya tidak teriak anarkis di ruang sekretariat) dengan alasan bahwa ada ruang aspirasi melalu para BEM.

BEM pun sepertinya acuh, toh yang penting KPI saya terpenuhi, nilai baik, jabatan prestis kudapat, kerja mudah, untuk apalah menciptakan solusi, lebih baik saya fokus dengan masa depan saya sendiri, terlalu rumit katanya menciptakan perubahan, terlalu banyak peran – peran dalam sistem yang turut andil.

Kemudian izinkanlah saya tertawa kembali soal agent of change, tidak ada yang namanya agent of change, karena kita lebih suka berdiam dalam kenyamanan, berpindah hanya untuk mencapai kenyamanan yang lain.

Share with your friends

Give us your opinion

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done